Miswan Edi Susanto alias Poltak, pembuat sekaligus perancang Pychohidro dan Mickrohydro pertama di Kabupaten Kayong Utara (KKU).
Di tahun 2009, Poltak dikenal sebagai perambah hutan atau pekerja kayu saat itu, pernah menjadi penampung besar bagi illegal logging di Ketapang dan Kayong Utara. Namun kini, Poltak mencoba peruntungan baru dan berkomitmen terhadap pelestarian hutan dengan cara pemanfaatan potensi alam dan kapasitas atau keterampilan yang dimilikinya untuk membuat alat pembangkit listrik sederhana yang dapat dijadikan sebagai energy alternative dan dikenal dengan nama “PhycoHydro dan Mickrohydro”.
Hal unik dan menarik nya adalah, semua material untuk membuat Pycohidro dan Mickrohydro 90 % adalah menggunakan barang bekas. Seperti dinamo yang berasal dari rangkaian kabel yang digunakan, kincirnya dari papan dan seng, besi dan kayu bekas kecuali beberapa panel seperti tembaga, ban/karet untuk pemutar.
Sosok inspiratif lainnya di Kabupaten yang berdiri sejak tahun 2007 itu adalah Damianus Yordan. Mantan petinju nasional yang mendedikasikan pikiran, tenaga juga diri-nya untuk menampung anak-anak jalanan dan anak kurang beruntung lainnya di daerahnya Kayong Utara.
Damianus, yang pernah meraih medali emas dalam kejuaraan Asia 1997 itu, tidak mau berpangku tangan atas minimnya perhatian dari pemerintah. Ia terus memutar otak agar sasana yang didirikan atas prakarsa keluarga Yordan itu tidak mati. Apalagi semangat untuk berprestasi untuk melahirkan Daud Yordan sang juara dunia baru terus bergelora dalam hatinya.
Selain dirinya dan Daud Yordan, Sasana Kayong Utara yang berukuran 8 x 22 meter terbilang sangat sederhana. Namun sasana itu telah melahirkan sejumlah petinju nasional. Antara lain, juara nasional kelas bulu super Yohanes Yordan, juara kelas bulu nasional Agus Kustiawan, dan juara nasional bantam junior versi FTI Ki Chang Kim.