Di tengah kehidupan kota metropolitan yang dinamis dan warganya cenderung individualistis serta jurang antara antara yang kaya dan miskin begitu lebar masih ada orang-orang yang peduli pada nasib sesama. Menariknya, mereka adalah orang-orang biasa yang berbuat luar biasa dan memberi manfaat bagi orang banyak. Diantara sosok-sosok luar biasa itu adalah Profesor Raldi Artono Koestoer. Guru besar Fakultas Teknik Universitas Indonesia ini membuat inkubator yang aman, murah, efisien dan mudah dipakai. Profesor Raldi dan tim inkubator Universitas Indonesia meminjamkan inkubator-ikubator itu secara gratis bagi yang membutuhkan untuk dipakai di rumah. Para peminjam merupakan orang tua atau keluarga yang memiliki bayi yang lahir prematur. Malah, bagi peminjam yang tidak dapat mengambil inkubator di kampus Universitas Indonesia Depok, profesor Raldi dan timnya siap mengantarkannya. Selain di Jabodetabek, para relawan yang siap melayani peminjaman inkubator gratis yang digagas Profesor Raldi telah terdapat di sebelas kota, seperti di Malang, Semarang, Banda Aceh dan Pemalang. Hingga kini sudah sekitar 150 bayi yang lahir prematur yang menggunkan inkubator ciptaan Profesor Raldi. Ke depannya, Profesor Raldi berusaha memperluas jaringan peminjaman agar lebih banyak menolong bayi-bayi yang lahir prematur. Guru besar yang jug jago main musik ini sengaja tidak mematenkan inkubator ciptaannya agar banyak orang dapat membuatnya.
Sementara, Nezatullah Ramadhan lewat Yayasan Nara Kreatif yang didirikannya mempunyai perhatian pada anak-anak jalanan dan anak-anak yang kurang beruntung lainnya. Neza didukung orang tua dan teman-temannya merangkul anak-anak itu untuk diarahkan, dididik serta dibekali berbagai ketrampilan. Sampai saat ini, sekitar 90 orang anak yang tergabung di Nara Kreatif. Anak-anak yang tergabung di Nara Kreatif rata-rata putus sekolah, sehingga mereka belajar pelajaran sekolah untuk dapat mengikuti ujian penyetaraan. Sedang ketrampilan yang diberikan diantaranya membuat kertas daur ulang dan barang-barang berbahan kertas daur ulang serta membuat lampu hias. Bimbingan agama dan budi pekerti juga menjadi kegiatan untuk anak-anak di Nara Kreatif. Neza berharap anak-anak bergabung Nara Kreatif mempunyai masa depan yang lebih baik, karena mereka hanya perlu perhatian dan bimbingan. Menurut Neza, anak-anak yang terpaksa terjun di jalan karena kurang perhatian. Baik Profesor Raldi maupun Neza melakukan kegiatannya tanpa pamrih, karena menemukan kebahagiaan saat berbagi.